Propolis, Produk Lain Budi Daya Madu yang Mahal Tapi Dibuang Petani

LAMPUNG (Wartaekspos60)- Dr. Saladin Uttunggadewa dari P2MS-ITB mengatakan ada produk sampingan budi daya madu yang selama ini terbuang sia-sia, yakni propolis. Padahal, jika diolah, harganya mahal di pasar internasional,” katanya.

“Selama ini, produk propolis yang berkotak bisa menghasilkan 1 kg, terbuang karena tak mampu mengolahnya,” kata Hendra dari Kelompok Tani Hutan (KTH) Teuweul Lestari dari Labuhanratu, Kabupaten Lampung Timur.

“Pasar propolis dunia memiliki Compound Annual
Growth Rate (CAGR) sebesar 5.48% selama periode 2022 – 2027,” kata Saladin Uttunggadewa kepada Helo Indonesia Lampung, Kamis (2/3/2023).

Menurut dia, pertumbuhan ini dikarenakan kandungan micronutrient, vitamin, and mineral, yang memberikan banyak manfaat yang makin dirasakan orang seperti kemampuannya untuk meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan kesehatan pencernaan, mengurangi kerutan di kalangan orang dewasa, dan menurunkan risiko terkena kanker dan penyakit jantung, mengontrol gula darah, dan menurunkan risiko anemia (sumber: WebMD dan https://www.mordorintelligence.com/ . Propolis banyak diperjual-belikan
dalam bentuk tablet, kapsul, cairan, krem, spray, permen, kue, dan produk
kecantikan (sabun, shampoo, krem).

Tetapi, di tengah berita baik pertumbuhan ini masih ada keraguan dari para pembeli mengenai keaslian dari propolis ini, karena belum diberlakukannya standar produksi dan pengujian keaslian propolis. Karena banyaknya manfaat propolis dan karena harganyanya yang relatif mahal, dikhawatirkan ada
upaya beberapa orang untuk menjual propolis yang tidak murni atau tidak
lolos standar cara pembuatan obat tradisional yang baik.

Di tahun 2022, peneliti dari Pusat Pemodelan Matematika Institut Teknologi Bandung (P2MS – ITB) membangun Tracebee, suatu sistem pencatatan berbasis blockchain bagi Komunitas Peternak Lebah Trigona Priangan.

Dengan Tracebee, kita dapat mencatatkan data peternak, peternakan, panen, produksi dan penjualan hasil produksi berupa madu dan propolis trigona.

Sistem informasi ini juga merupakan traceability system untuk madu dan
propolis trigona yang dihasilkan komunitas tersebut karena sistem
pencatatan dilakukan di platform blockchain yang terpercaya sebagai sistem pencatatan yang aman, transparan dan tidak dapat diubah.

Dengan traceability system ini setiap kemasan dari madu atau propolis trigona dapat ditelusuri asal muasal peternakannya, tanggal panen, tanggal produksi, tanggal pengemasan, data retailer, sampai tanggal dipasarkan, secara mudah hanya dengan men-scan barcode menggunakan telepon genggam atau dengan komputer.

Dengan traceability system ini dan juga sertifikat Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) dan Hasil Uji Propolis dari BPOM, propolis dari Komunitas Peternak Lebah Trigona Priangan mendapatkan sambutan yang sangat baik dari masyarakat, dan penjualan propolis di komunitas ini makin bertambah.

Kegiatan pembuatan Tracebee secara finansial didukung oleh hibah
Pengabdian Masyarakat Pemulihan Ekonomi ITB tahun 2022. Di tahun ini,
Pusat Pemodelan Matematika Institut Teknologi Bandung (P2MS – ITB)
bekerjasama dengan Lembaga Konservasi 21 Lampung dan PT. Asta Berkarya Farm kembali mendapatkan hibah yang sama untuk memperluas kerjasama yang telah terbangun antara P2MS – ITB dan Komunitas Peternak Lebah Trigona Priangan ke komunitas peternak lebah trigona di Lampung.

Budidaya lebah trigona di Provinsi Lampung telah berkembang pesat, namun yang dimanfaatkan baru madu hasil peternakan saja. Raw propolis, sebagai bahan dari propolis, belum termanfaatkan dengan baik padahal memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Karena itu, di awal kegiatan pengabdian masyarakat di tahun 2023 ini dilaksanakan Pelatihan Pemanfaatna Raw Propolis Lebah Trigona Laeviceps.

Peserta pelatihan diberi paparan tentang Standar Tata Cara Panen, sehingga jika cara panen sudah sesuai dengan standar SNI atau BPOM, para peternak akan mudah meningkatkan budidaya peternakan lebah
trigona laeviceps ke tingkat yang lebih tinggi yaitu memproduksi propolis.

Di pelatihan ini juga hadir beberapa peneliti dari Institut Tekologi Sumatra
(ITERA), yang secara bersama-sama mendiskusikan fasilitas uji produk para petani lebah trigona di Lampung agar produksi madu dan propolis di
Lampung mudah lolos standar SNI maupun BPOM.

Pemateri Dr. Saladin Uttunggadewa (P2MS-ITB), Ir. Edwin Hadiana (PT. Asta Berkarya Farm Bandung) Penyelenggara Pusat Pemodelan Matematika Institut Teknologi Bandung (P2MS – ITB) dan
Lembaga Konservasi 21 Lampung
Peserta Beberapa kelompok peternak lebah trigona dari Kelompok Tani Tapak Liman Lampung, KTH Teuweul Lestari, KTH Bina Lestari, KTH Trigona Ghayo, Koperasi Pemasaran Satgas Sahabat Satwa, KTH Lantana, Bee Eight Farm Metro, Omah Tawon Mataram, yang datang dari Kota Metro, Kabupaten Lampung Timur, Kabupaten Tanggamus, dan Kabupaten Lampung Tengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *